Kok Kamu Susah Sekali Disuruh Belajar Sih, Nak?

Gambar

Hmm….sering gak sih kita (saya juga tentunya) para orang tua melontarkan ucapan ini ke anak sendiri ketika kehabisan cara meminta anaknya belajar?

Tapi memang begitulah orang tua. Inginnya anaknya rajin belajar agar si anak  pintar, nilainya bagus…standar lah. Tipikal orang tua (jaman dulu). Saya pun termasuk (sering) yang mengharapkan (baca : menyuruh) anaknya mau belajar. Dan yang saya selalu tekankan adalah agar anak-anak saya bisa belajar mandiri. Ya tentunya yang mereka belum bisa mencernanya, akan saya dampingi. Saya selalu bilang ke anak saya, terutama si kakak yang sudah SD, “Kamu coba belajar sendiri dulu, nak. Jangan tunggu pas ada mama. Kerjain PR yang bisa kamu kerjakan dulu. Nanti kalau mama sudah pulang dari kantor, soal yang susah baru kita kerjakan bersama”.

Ya entahlah….namanya anak-anak. Hari ini bilang “Iya…” dan besoknya juga sudah lupa lagi. Nah yang kaya begini akhirnya sering membuat saya agak jengkel, tidak jarang akan berujung kemarahan dan  tangisan si kakak. Menyesal pasti….karena seperti kehabisan akal untuk memintanya belajar mandiri. Hiks…

Lagi sering mengalami seperti ini, kok ya pas banget ada email yang masuk ke inbox dimana intinya memberikan solusi dari masalah anak yang susah belajar. Judulnya cukup mengagetkan buat saya . Bunyinya gini : “Mengapa Orang Tua dan Guru Harus Berhenti Menyuruh Anak Belajar?” Wheewww, surpise banget ngeliat dari judulnya doang.  Tertariklah saya membaca artikelnya.

Kesimpulan dari artikel yang saya baca, kira-kira gini nih….

  1. Kemampuan anak sejak lahir adalah BELAJAR karena manusia memiliki kelebihan yang diberikan Sang Maha Pencipta dibanding makhluk lainnya yaitu OTAK. Apapun yang anak lihat, dengar, rasakan, keingintahuannya adalah suatu proses pembelajaran.  Lihat aja balita yang sedang dalam pertumbuhan, bagaimana anak mulai melangkah, berjalan, berbicara…..itu suatu pembelajaran kan? Apakah kita terus meminta mereka belajar hal-hal tersebut? Akhirnya mereka bisa sendiri kan? Tentunya kemanpuan pada setiap anak berbeda dan janganlah membandingkan kemampuan mereka. Tapi akhirnya mereka bisa juga kan.  Jadi….berhentilah menyuruh anak belajar! Mereka akan belajar dengan sendirinya.
  2. Ubahlah paradigma “Wajib Belajar” menjadi “Gemar Belajar”. Dengan perbedaan satu kata dari Wajib menjadi Gemar akan sangat mempengaruhi anak. Sesuatu yang diwajibkan, biasanya akan dilanggar oleh manusia. Gak usah anak-anak, orang tua aja masih banyak kok meninggalkan atau masa bodo’ dengan yang wajib. Dengan membuat anak Gemar akan sesuatu, artinya anak akan menaruh minat terhadap sesuatu hal.  Misal anak yang gemar membaca, gemar menyanyi, atau gemar gemar lainnya, perhatikan deh…pasti mereka akan dengan suka rela melakukan hal tersebut. Gak harus dipaksa melakukan hal yang mereka sukai. Disinlah PR buat guru di sekolah dan orang tua di rumah bagaimana agar anak gemar belajar. Misal dengan mempraktekkan sesuatu atau membaca teori dengan memberikan contoh real.  Menggunakan alat bantu atau alat peraga agar menarik perhatian anak. Contohnya yang pernah tanpa sadar saya sudah terapkan hal ini ke Ghaly. Pada saat pelajaran PKN tentang Susunan Pemerintahan yang menurut saya kok ya siswa kelas 4 SD sudah perlu belajar beginian….? Saya sempat putar otak bagaimana membuat Ghaly mengerti apa sih DPR, MPR, lembaga legislatif, yudikatif dll serta tugas dan perannya……fuiiihhh  saya sendiri aja tidak terlalu paham dengan struktur pemerintahan.  Akhirnya dengan sama-sama “belajar” dari buku dan gugling ke mbah Google, memberikan contoh dan memperlihatkan gambar-gambar, Ghaly pun lebih tertarik untuk belajar pembahasan materi ini. Surprisingly nilainya sangat memuaskan buat saya yang sudah mengajarinya. It’s kind a reward for me J
  3. (Sebaiknya) Berhenti menyuruh anak belajar dengan diiming-imingi hadiah atau reward yang hanya men-trigger anak untuk belajar dalam “sesaat”. Iya…saya menambahkan kata sebaiknya dalam kurung karena saya masih belum bisa sepenuhnya menerapkan anjuran ini. Terkadang memang saya ingin memberikan reward agar anak lebih terpacu dan bersemangat dalam belajar. Dan biasanya saya berikan bersamaan dengan ulang tahun atau kenaikan kelas mereka. Anggaplah sebagai hadiah mereka. Itupun juga setahun sekali. Jadi menurut saya masih masuk akal.

TERNYATA……apa yang saya lakukan selama ini masih konvensional. Ini juga pembelajaran buat saya tentunya. Dan setelah membaca artikel tersebut, telah membuka mata saya bahwa orang (yang lebih) tua tidak bisa semena-mena menyuruh anak belajar. Kita pun bila bekerja, apa enak disuruh-suruh atasan. Ya gak mau lahh. Lebih demokratis lah ke anak-anak. Jangan selalu menganggap mereka anak-anak yang belum tahu apa-apa. Yang penting orang tua harus bisa membimbing, mengarahkan, memperbaiki apa yang mereka pelajari. That’s all.

Let’s try……(hopefully) they always trust us as their guide. 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Parenting, Uncategorized dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s