Puasa Sejak Dini

Ramadhan Tiba….Ramadhan Tiba….Ramadhan Tiba…..

Ramadhan sudah dimulai di akhir bulan Juni. Seperti biasa di negara kita Indonesia tercinta, puasa terkadang tidak diadakan serempak. Muhammadiyah memutuskan 1 Ramadhan jatuh hari Sabtu tanggal 28. Sedangkan Pemerintah (dalam hal ini NU) menetapkan hari Minggu dengan perhitungan hilal dan rukiyah-nya. Tidak ada paksaan harus ikut yang mana, tergantung setiap orang untuk mengikut ulil amri yang mereka percayakan.

Saya mengikuti awal puasa versi pemerintah. Jadi baru mulai  hari Minggu. Tahun ini, awal puasa dimulai di rumah mertua. Memang kebetulan juga bertepatan dengan liburan anak sekolah. Ghaly sudah antusias saat memasuki bulan Ramadhan. Dia menyatakan mau ikut puasa penuh tahun ini. Tahun-tahun sebelumnya, si kakak juga sudah mulai puasa full day. Tapi hanya beberapa hari saja yang bisa poll (istilah bila bisa puasa penuh dari imsyak hingga maghrib). Saya memang tidak pernah mengharuskan anak puasa di usia tertentu. Lebih melihat kesiapan mereka untuk memulainya. Karena dengan itu, mereka akan lebih berkomitmen dan bertanggung jawab atas hal yang mereka lakukan. Ternyata antusiasme si kakak menular ke adiknya. Dari umur sebenarnya Nikha sudah mulai bisa untuk belajar puasa. Namun saat Ghaly seusia Nikha, 6 tahun, sama sekali belum ada minat untuk mengikuti puasa. Mungkin karena Ghaly belum memiliki real model yang bisa jadi panutannya,

Sahur pertama, saya hanya mengajak si kakak sahur. Ternyata paginya, Nikha ngambeg karena tidak dibangunkan sahur. Saya menanyakan kesungguhannya apakah sudah siap puasa. Gak disangka, dia lebih siap dari yang saya duga. Puasa hari pertama Nikha pun dimulai dari jam 12 siang hingga magrib tiba. Rupanya yang dia inginkan adalah momen istimewa saat berbuka puasa. Tradisi buka puasa di rumah hanya teh manis dan aneka gorengan buatan si mbak. Dan itulah menjadi suatu yang istimewa yang memicu si bungsu untuk memulai puasanya. Saya kagum dengan anak saya. Esoknya Nikha ikutan sahur dan mencoba untuk puasa full day. Tapi karena belum terbiasa, tengah haripun dia minta waktu untuk berbuka untuk makan dan minum (sekaliiiii ajaaaa yaa…gitu katanya) dan diterusin lagi hingga Maghrib. Tidak masalah dengan itu, yang penting ada perkembangan dari hari sebelumnya. Hebatnya di hari ketiga puasa, Nikha sudah bisa puasa poll. Saya cukup surprise juga mengetahui dia bisa melalui sehari puasa tanpa makan dan minum. Dan kata orang rumah, dia hanya mengeluh haus ketika jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Dengan berbagai cara untuk mengalihkan dahaganya, akhirnya Nikha mampu melewatinya hingga Magrib. Hebaaattt anak kuhh…:*

Belajar dari pengalaman 2 anak saya, saya bisa mengambil kesimpulan (sendiri) untuk mengajarkan anak-anak puasa sejak dini :

1. Kesiapan Anak-anak Tidak Bisa Disamakan

Anak akan siap dengan sendirinya, kita hanya menunggu waktu yang tepat dan memberikan support agar mereka mau melakukannya. Jangan menyamaratakan umur anak bahwa bila si A saat umur 7 tahun sudah bisa puasa satu bulan penuh dan si B masih belum bisa puasa 1 hari, it’s OK. Jangan berkecil hati. Intinya jangan paksakan anak untuk melakukan hal apabila ia belum siap melakukannya.

2.  Real Model Akan Lebih Membantu

Bila di lingkungan sekitar ada yang bisa dijadikan contoh, ini akan lebih mudah diterapkan ke generasi berikutnya. Biasanya kesiapan adik akan lebih cepat dibanding si kakak. Namun jangan pula mengecilkan hati si kakak. Berikan penjelasan bahwa setiap anak berbeda bila berhubungan dengan kesiapan.

3. Ciptakan Momen Unik Yang Mengingatkan Hal Tertentu

Momen buka puasa dengan teh manis hangat dan gorengan rumahan akan menjadi seru bila dinikmati bersama keluarga. Apalagi saya yang satu rumah dengan orang tua dan adik saya dengan keluarganya, semakin menambah kegembiraan keluarga ketika menyambut bedug maghrib tiba.

4. Berikan Penghargaaan

Saya selalu memberikan penghargaan kepada anak-anak bila mereka berhasil melakukan sesuatu. Bukan merupakan materi. Materi buat saya adalah hal kesekian. Pujian, pelukan dan ciuman selalu saya berikan ke anak-anak bila mereka berhasil. Dan menurut anak-anak saya, it’s worth it enough. *Hopefully*

Sungguh saya bangga kepada mereka. Mungkin karena saya merasa belum menjadi orang tua yang siap mengajarkan agama kepada anak saya. Saya sendiri mengakui bahwa saya (dan suami) terkadang masih belum sepenuhnya menjalani semua kewajiban-Nya. Namun saya selalu mencoba untuk memberikan pendidikan agama sejak dini. Dan Insha Allah anak-anak saya akan menjalankan dengan niat, ikhlas lillahi ta’ala hingga mereka dewasa kelak.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Parenting, Uncategorized dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s