Mari Beramal Sejak Kecil

amalMenjelang Idul Adha beberapa termpat yang sering menyalurkan hewan kurban mulai mengibarkan benderanya. Harga-harga hewanpun sudah mulai berkompetisi walaupun masih di dalam batas margin normal. Sayapun belum tau apakah tahun ini akan berkurban atau tidak. Keuangan memang sedang tidak mendukung, pun tahun ini baru saja mengeluarkan “jatah” akikah si adik yang baru kesampaian setelah tertunda 5 tahun lamanya. Alhamdulillah akhirnya satu hutang terbayar sudah 🙂

Tak terkecuali sekolah anak-anak. Sejak si kakak masuk SD, saya memang mengetahui bahwa sekolah anak-anak membantu menyalurkan bagi orang tua yang ingin berkurban. Saya sendiri belum pernah berkurban melalui sekolah anak-anak. Karena harganya biasanya diatas rata-rata, plus dikenakan biaya perawatan hewan tersebut. Jadi saya dan suami biasanya lebih memilih penyalur lain yang harganya lebih masuk di kantong kami

Surat edaran sudah diberikan dari minggu lalu. Selain ajakan untuk menyalurkan kurban lewat sekolah, orang tua (dan anaknya) diingatkan untuk beramal dengan menyisihkan sebagian uang saku anak dalam menyambut Idul Qurban ini. Dari tahun-tahun sebelumnya, si kakak sangat antusias bila ada acara amal seperti ini. Menurutnya ini seperti semacam lomba. Saat mendekati lebaran haji, kotak amal yang disebarkan di setiap kelas akan dihitung jumlahnya dari akumulasi amal selama kurang lebih satu bulan. Kelas yang memiliki jumlah tertinggi akan diumumkan di depan seluruh anak. Hal ini ternyata membuat kebanggan buat mereka padahal menangpun mereka tidak mendapat “hadiah” juga. Hmmmm…..

Tak terkecuali tahun ini. Kali ini adek juga mulai belajar beramal. Dan mulailah mereka berlomba-lomba ingin mengisi “celengan” kelasnya dengaaannnn meminta uang saku lebih ke saya. Loh? Kok begitu nak? hehehe. Saya mengingatkan ke anak-anak bahwa beramal yang benar adalah dengan menyisihkan uang saku mereka yang diterima setiap hari, bukan dengan meminta uang lebih ke saya. Agak sedikit tidak rela juga sih mereka, terutama si adek yang lagi doyan-doyannya jajan. Tapi akhirnya saya gak tega juga. Saya berikan tambahan dua ribu perak tiap anak. Sempat juga mereka berkata, “Kok cuma dua ribu sih, ma?” Alasan saya ke mereka “Kan amalnya sampai bulan depan. Kakak sama adek berdua aja jadi empat ribu tiap hari. Jadi masih banyak waktu untuk masukin uang ke kotak amalnya ya” Akhirnya mereka menerima juga penjelasan saya tadi.

Selang beberapa hari berlalu, ketika akan bersiap sekolah, rutinitas saya sedang menyiapkan uang saku plus uang amal. Setelah berpindah tangan, tiba-tiba si kakak balik ke kamarnya, membuka lemari pakaian dan mengambil dompetnya. Anak-anak saya memang memiliki dompet sendiri yang isinya berasal dari “angpao” lebaran, hadiah ulang tahun dari eyang dan tantenya juga uang saku dari eyang kakungnya tiap bulan. Isinya pastinya lebih banyak dari dompet saya hahaha. Balik lagi ke si kakak, ternyata dia mengambil satu lembar uang sepuluh ribuan dari beberapa lembar yang terdapat di dompetnya. Agak curiga saya langsung tanya, “Uang buat apa kak? Kan mama sudah kasih uang saku.” Ternyata jawabannya cukup membuat saya terpana “Bukan ma, aku mo tambahin buat amal. Biar tambah banyak isinya”

Senang sekali mendengar jawaban si kakak. Mungkin dia belum mengerti benar apa kegunaan amal kita di kemudian hari. Tapi dengan niatnya yang tulus, semoga ini akan berlangsung terus hingga ia dewasa. Bahwa beramal sangat membantu sebagai tabungan kita di hari akhir nanti. Dan semoga pula, virus beramal si kakak bisa menular ke adeknya tanpa perlu saya “paksakan” ke mereka. Toh mereka juga akan mengerti sendiri kegunaan amal itu nantinya 🙂

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Keluarga, Kiddo, LearningbyDoing. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s