Mari Beramal Sejak Kecil

amalMenjelang Idul Adha beberapa termpat yang sering menyalurkan hewan kurban mulai mengibarkan benderanya. Harga-harga hewanpun sudah mulai berkompetisi walaupun masih di dalam batas margin normal. Sayapun belum tau apakah tahun ini akan berkurban atau tidak. Keuangan memang sedang tidak mendukung, pun tahun ini baru saja mengeluarkan “jatah” akikah si adik yang baru kesampaian setelah tertunda 5 tahun lamanya. Alhamdulillah akhirnya satu hutang terbayar sudah 🙂

Tak terkecuali sekolah anak-anak. Sejak si kakak masuk SD, saya memang mengetahui bahwa sekolah anak-anak membantu menyalurkan bagi orang tua yang ingin berkurban. Saya sendiri belum pernah berkurban melalui sekolah anak-anak. Karena harganya biasanya diatas rata-rata, plus dikenakan biaya perawatan hewan tersebut. Jadi saya dan suami biasanya lebih memilih penyalur lain yang harganya lebih masuk di kantong kami

Surat edaran sudah diberikan dari minggu lalu. Selain ajakan untuk menyalurkan kurban lewat sekolah, orang tua (dan anaknya) diingatkan untuk beramal dengan menyisihkan sebagian uang saku anak dalam menyambut Idul Qurban ini. Dari tahun-tahun sebelumnya, si kakak sangat antusias bila ada acara amal seperti ini. Menurutnya ini seperti semacam lomba. Saat mendekati lebaran haji, kotak amal yang disebarkan di setiap kelas akan dihitung jumlahnya dari akumulasi amal selama kurang lebih satu bulan. Kelas yang memiliki jumlah tertinggi akan diumumkan di depan seluruh anak. Hal ini ternyata membuat kebanggan buat mereka padahal menangpun mereka tidak mendapat “hadiah” juga. Hmmmm…..

Tak terkecuali tahun ini. Kali ini adek juga mulai belajar beramal. Dan mulailah mereka berlomba-lomba ingin mengisi “celengan” kelasnya dengaaannnn meminta uang saku lebih ke saya. Loh? Kok begitu nak? hehehe. Saya mengingatkan ke anak-anak bahwa beramal yang benar adalah dengan menyisihkan uang saku mereka yang diterima setiap hari, bukan dengan meminta uang lebih ke saya. Agak sedikit tidak rela juga sih mereka, terutama si adek yang lagi doyan-doyannya jajan. Tapi akhirnya saya gak tega juga. Saya berikan tambahan dua ribu perak tiap anak. Sempat juga mereka berkata, “Kok cuma dua ribu sih, ma?” Alasan saya ke mereka “Kan amalnya sampai bulan depan. Kakak sama adek berdua aja jadi empat ribu tiap hari. Jadi masih banyak waktu untuk masukin uang ke kotak amalnya ya” Akhirnya mereka menerima juga penjelasan saya tadi.

Selang beberapa hari berlalu, ketika akan bersiap sekolah, rutinitas saya sedang menyiapkan uang saku plus uang amal. Setelah berpindah tangan, tiba-tiba si kakak balik ke kamarnya, membuka lemari pakaian dan mengambil dompetnya. Anak-anak saya memang memiliki dompet sendiri yang isinya berasal dari “angpao” lebaran, hadiah ulang tahun dari eyang dan tantenya juga uang saku dari eyang kakungnya tiap bulan. Isinya pastinya lebih banyak dari dompet saya hahaha. Balik lagi ke si kakak, ternyata dia mengambil satu lembar uang sepuluh ribuan dari beberapa lembar yang terdapat di dompetnya. Agak curiga saya langsung tanya, “Uang buat apa kak? Kan mama sudah kasih uang saku.” Ternyata jawabannya cukup membuat saya terpana “Bukan ma, aku mo tambahin buat amal. Biar tambah banyak isinya”

Senang sekali mendengar jawaban si kakak. Mungkin dia belum mengerti benar apa kegunaan amal kita di kemudian hari. Tapi dengan niatnya yang tulus, semoga ini akan berlangsung terus hingga ia dewasa. Bahwa beramal sangat membantu sebagai tabungan kita di hari akhir nanti. Dan semoga pula, virus beramal si kakak bisa menular ke adeknya tanpa perlu saya “paksakan” ke mereka. Toh mereka juga akan mengerti sendiri kegunaan amal itu nantinya 🙂

Iklan
Dipublikasi di Keluarga, Kiddo, LearningbyDoing | Meninggalkan komentar

Do What You Really Want, Dear! I Will Support For Your Best

Gambarnya Ghaly

Hasil Karya Ghaly

Saya bukan termasuk ibu yang ambisius atau ingin memaksakan sesuatu yang saya suka untuk kedua buah hati saya. Sebisa mungkin mereka bisa melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Saya ingin mereka tumbuh dengan masa kanak-kanak yang indah dan dapat dikenang sampai kapanpun mereka dapat mengingatnya. Namun dibalik semua keinginan mereka, sebagai seorang ibu tentunya ingin mengarahkan ke “sesuatu” yang lebih positif. Dengan menunjang segala fasilitas untuk memenuhi bakat dan minat mereka. Tentunya tidak semua bisa dipenuhi namun dengan kemampuan dan keterbatasan saya dan suami sebagai orang tua.

Siapa sih orang tua yang gak bangga melihat perkembangan buah hatinya? Seorang ibu tentunya yang paling amat sangat berperan dalam perkembangan anak-anak. Biasanya pengaruh ibu lebih kuat dibanding bapaknya (biasanya yaaa hehehe). Begitupun kedua anak saya. Tanpa saya sadari ternyata pengaruh dan didikan saya terkadang “menuntut” mereka memenuhi keinginan saya (juga).

Agak dilematis sih memang.
Secara teori, sepenuhnya saya ingin mereka dapat mengembangkan minat dan bakat mereka sesuai yang mereka mau. Tapi emang dasarnya ibu-ibu, adaaa aja “tanpa sengaja” mengarahkan keinginan mereka kepada sang anak.

Kaya gini nih…contoh kecilnya :
Waktu anak-anak senang menggambar, saya excited sekali. Maklum karena bapaknya mahir di grafis dan seni, jadi persepsi saya mungkin ini nurun dari bapake. 😀
Jadi mulailah saya “mengarahkan” mereka agar semakin suka menggambar. Saya belikan alat-alat gambar untuk menunjang minat mereka. Salah satunya adalah saya membelikan mereka crayon/pastel agar lebih mudah mewarnai karena bahannya lebih empuk dibanding pensil kayu. Dan tentunya warnanya bisa lebih cerah dan hidup. PADAHAL mereka lebih senang menggunakan pensil warna, dengan alasan tangan mereka bisa lebih bersih dan saat mewarnai tidak keluar garis. Simple thing kan ?!?!
Tapi karena beda pendapat antara saya dan mereka, AKHIRNYA mereka jadi enggan menggambar karena “permintaan saya” untuk menggunakan crayon daripada pensil warna.

Eng…ing…eng…..
Kalo udah gini, sebenernya ada tanda-tanda pemaksaan saya secara tidak langsung kepada anak-anak. Walaupun tujuan saya sebagai ibu ingin yang lebih baik. TAPI terkadang saya gak sadar memaksakan keinginan kepada mereka. Loh ? Itu kan gambar mereka yang buat, mereka yang warnai dan mereka juga yang kerjain. Kenapa jadi situ yang repot?

Hahahaha. Inilah yang sering berkecamuk didalam diri saya dalam mendidik anak-anak. Ketidaksadaran kita sebagai orang tua ingin memberikan yang terbaik kepada anak. Terkadang menjadi pemaksaan yang terselubung terhadap buah hati kita.

Membiarkan apa yang mereka suka dan apa yang mereka mau sebenarnya bukanlah hal yang susah. Orangtualah, sekali lagi, yang berperan penting dalam membimbing mereka agar tidak salah arah. Namun terkadang ada hal-hal yang membuat ibu ingin berperan dalam setiap hal yang dilakukan anak mereka hingga akhirnya salah kaprah. Saya sering mengalami hal ini. Dan sering pula menyesal karena mendulukan ego saya dibandingkan keinginan dan kemauan mereka.

Saya INGIN SEKALI….teramat ingin mendukung segala keinginan mereka sesuai yang mereka mau. Tidak memaksakan ego apa yang saya mau. Tugas saya sebagai ibu hanya mengarahkan ke arah yang lebih baik dan benar. Bukan, bukan buat saya. Tentunya buat bekal mereka di kemudian hari.

Dipublikasi di Kiddo, Parenting | 2 Komentar

Maafkan Mama ya, Nak…

I feel terrible today.

Mulai berasa gak enak sebenarnya sejak semalam. Dan ditambah dengan kejadian pagi ini. Argghhh really not feel good enough 😦

Berawal saat semalam ketika menemani dan mengajarkan si kakak. Memang mood sedang gak bersahabat karena tamu bulanan tiba, juga setelah lelah harus menunggu bus yang cukup lama dan harus berdiri dari halte kantor sampai rumah. Tiba di rumah langsung menghadapi anak-anak untuk persiapan sekolah besok. Hari ini memang ada jadwal si kakak ulangan harian.

Satu jam pertama proses (menemani) belajar berjalan lancar. Satu per satu contoh soal dari gurunya bisa terjawab walau dengan tersendat beberapa kali. Dan ketika jarum jam hampir mendekati pukul 9, pelajaran math yang terkadang menjadi beban buatnya mulai menyusahkan. Beberapa kali dia salah hitung, salah cara, dan luaammaanya mengerjakan satu soal yang menyebabkan saya jadi hilang kesabaran. Akhirnya emosi saya pun meningkat dan tanpa sengaja atau niat tertentu, saya tiba-tiba mengatakan “Kakak, kamu ngerjain satu soal gini aja lama banget sih, Nak. Gimana besok UH di sekolah. Kamu bisa kehabisan waktu lagi dan gak selesai ngerjain soalnya”. Dan secara langsung kakak mulai menangis dan mengucapkan sesuatu yang saya menyesal sal sal sal sekalii. “Mama, kenapa doain aku begitu sih? Kalo mama bilang gitu kan, aku kan jadi takut buat UH besok…”

Astaghfirullah Nak…. maafkan mama ya 😦 Sungguh, mama gak maksud buat kakak seperti itu. Mama cuma pengen kakak lebih sigap, lebih cepat dalam mengerjakan soal. Ahhh sungguh saya benar-benar menyesal. Apalagi perkataan ibu kan bisa jadi kenyataan ya. Ya Allah, maafkan perkataan saya.

Belum cukup emosi saya semalam, tadi pagi kejadian lagi. Kali ini adek yang jadi targetnya. Kebiasaan si adek bangun pagi langsung mandi untuk siap sekolah memang agak pe-er buat saya. Senang mengulur waktu dan malas-malasan sudah menjadi trademark-nya. Biasanya bapaknya yang mau ngalonin si adek. Tapi pagi ini pas kebetulan saya yang handle. Saat memintanya mandi, si adek benar-benar tidak mau beranjak dari tempat tidur. Padahal matanya sudah melek. Saya ingatkan bahwa sehari sebelumnya, mereka hampir telat tiba di sekolah karena macet yang lumayan parah. Himbauan saya seperti tidak mempan baginya. Secara refleks, saya menarik tangannya agar segera beranjak dari tempat tidur dan segera mandi. Tiba-tiba ia teriak, “Awww! Sakit mamaaaaa…!” Saya pun langsung menyahut, “Makanya ayooo bangun. Langsung mandi!” Seketika itu juga, si kakak yang sedang bersiap-siap berpakaian langsung nyeletuk yang buat saya kaget “Makanya, dek. Bangun buruan! Nanti mama kejam loh”

Ya Tuhan……saya buat salah lagi ya. Sedih hati saya dengar perkataan mereka. Tapi mereka gak salah. Saya yang salah. Terkadang saya tidak bisa mengontrol emosi yang sering datang. Maaf nak.,,,,:( ~Inhale…..exhale…..inhale….exhale…..~

Ternyata perasaan bersalah terbawa hingga menjalani pekerjaan di kantor. Merenungi dan meminta maaf berkali-kali ke mereka hanya dalam hati. Rasanya ingin pulang segera dan memeluk mereka erat dan mencium mereka dan mengucapkan permintaan maaf ini…. Maafkan mama ya, Nak 😦

See you at home, my kiddos….

P.s. :

Please don’t this at home or anywhere else to your kiddos! Jangan….pokoknya jangan! Kamu akan menyesal seumur hidup. Believe me.

Dipublikasi di Kiddo, Parenting | 2 Komentar

Show Me with Your Love…..

Menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang itu bisa beraneka ragam bentuknya. Ada yang biasanya senang memberikan barang untuk orang-orang tercinta, ada yang senang memberikan pujian dan kata-kata mesra untuk pasangannya atau ada juga cukup dengan menggunakan kata hati, masing-masing sudah tahu apa yang dimaksud

Dari sejak pacaran, saya dan suami bukanlah tipe yang mengumbar rasa cinta dan sayang dengan kata-kata apalagi barang.  Pacaran kami jarak jauh dan relatif singkat. Cukup 7 bulan pacaran selanjutnya menikah 😉 Kami mungkin termasuk tipe yang terakhir dari kategori diatas. Bukan kebiasaan kami berdua yang suka memberikan pujian dan menunjukkan rasa cinta. Sepertinya dengan sendirinya kami berdua tahu apa yang ingin disampaikan.

Tapi ada satu hal yang akhirnya terlihat oleh kasat mata saya, cara suami menunjukkan rasa kasih sayangnya kepada keluarga. Dengan MASAKAN. Suami jarang membelikan saya macam-macam barang. Takut bukan selera saya katanya. Paling hanya setahun sekali, saat ulang tahun saya atau anniversary kami. Tapi kalo urusan belanja bahan makanan, paling seneng dia. Segala macam bumbu kalo bisa ada tuh tertata di dapur. Karena dapur kami yang mungil, saya sering larang beli bahan-bahan yang jarang dipakai. Kalo tidak, bisa-bisa pindah tempat ke bak sampah karena sudah keburu habis kadaluarsanya.

Suami bukanlah chef yang handal, diapun terkadang masih coba-mencoba resep yang ingin dimasak. Jadi kami sangat maklum bila menjadi “kelinci percobaan”nya. Tak apalah. Toh gadisku selalu mengacungkan jempolnya setiap menikmati masakan papanya. Suami paling senang masak pasta. Segala macam pasta dia coba. Dengan mix and match dressing-nya. Terkadang juga masakan Jepang. Bento dan Sushi jadi pilihan dan kesukaan anak-anak. Kalo saya lebih suka dibuatkan salad pasta yang plain,  atau yang hanya “disiram” minyak zaitun dan tambahan garnish yang agak ringan. Maklumlah sudah ingat umur dan penyakit senja 🙂

Menunjukkan Cinta dengan Masakan

Menunjukkan rasa cinta bisa juga loh dengan masakan

Kebiasaan suami memasak gak pernah menentu waktunya. Lebih banyak ketika hari libur. Tapi tidak jarang juga, suami membuat masakan di pagi hari ketika waktu sarapan tiba. Biasanya setelah saya beberes dan siap-siap mau berangkat kerja, taaadaaaa sarapan enak sudah tersedia di meja. Aaahhhn nikmeeehh sekaliii….:)

Begitulah cara menunjukkan cinta suami kepada saya juga keluarga. Tak perlu lah diumbar dengan kata-kata mesra dan pujian setinggi langit. Tak usah pula harus berupa barang-barang. Dengan membuat masakah untuk keluarga dengan rasa sayang dan bumbu cinta, tentu sudah mewakilkan semuanya. Jadi saya punya istilah sendiri untuk keterkaitan antara makanan dan cinta. Yaitu “Dalam masakan yang enak terdapat cinta yang kuat”.

Dipublikasi di Keluarga | Tag , , | Meninggalkan komentar

Enaknya Ngapain Ya Di Bulan Puasa ?

Masih tentang puasa….

Terkadang buat anak-anak, waktu puasa terasa sangatttt panjanggg…..dan bedug maghrib pun terasa lama. Ya gak usah anak-anak, kita pun orang dewasa akan boring bila tidak ada kegiatan yang dapat menyita waktu. Biasanya bulan puasa, sekolah memberikan libur di awal dan akhir puasa. Sekitar 2 mingguan lah. 3 minggu dengan libur lebaran. Tapi karena tahun ini puasa bertepatan dengan libur kenaikan kelas, jadi jatah libur anak sekolah lebih lama dari sebelumnya.

Buat anak-anak, libur sekolah adalah waktunya bermain sampai puas. Puasa atau tidak, mengisi waktu dengan bermain adalah kudu wajib hukumnya buat mereka. Kapan lagi mereka tidak memikirkan PR, UH, hapalan atau apalah yang biasanya membebani mereka. Sekolah sekarang kan sudah beda dengan jaman kita dulu…..(berasa tua kalo gini hehehe)

Balik ke topik awal, banyak hal sebenarnya yang bisa anak-anak lakukan. Bermain adalah keyword-nya. Orangtua tinggal ngembangin deh sub keyword dari “bermain” itu. Misalnya bermain sambil bikin kue, bermain sambil memasak, bermain sambil membaca buku cerita, banyaklah pokoknya yang bisa bikin anak-anak senang. Ghaly dan Nikha di bulan puasa ini mendapatkan pengalaman sendiri yang jarang-jarang mereka lakukan. Selain membaca buku, main games di PC atau tablet, nonton TV di saluran anak-anak, masih banyak hal loh yang bisa dilakukan mereka dalam mengisi waktu luang. Nih..saya ada beberapa contoh bermain (cara lain) yang juga bisa memberikan kegembiraan buat anak-anak.

making cookie

Buat Choco Ball Cookie buat Buka Puasa

Buat Choco Ball untuk buka puasa.

Membuat kue simple (menurut saya), Choco Ball. Bahan-bahan tidak perlu ada yang dimasak, tinggal plung…plung…plung masukkan semua bahan ke wadah, dihancurkan dengan tangan lalu dibentuk bulat-bulat. Kasih hiasan luarnya agar menarik. Prosesnya ini yang membuat anak-anak senang mengerjakannya. Mereka memiliki ke-asyik-an tersendiri dan tentunya mereka puas bisa makan kue buatan mereka sendiri. Setelah kue jadi, masukkan ke dalan lemari pendingin.. tunggu hingga maghrib, kue sudah siap disantap 😉

Narsis Nyiapin Takjil

Bantu Oma Menyiapkan Takjil

Bantu Oma menyiapkan Ta’jil.

Setiap bulan puasa, ibu saya mendapatkan jatah menyiapkan takjil untuk mesjid dekat rumah. Tidak terlalu banyak karena biasanya dibagi dengan anggota mesjid lain. Saat menyiapkan takjil, terutama ketika mulai menyiapkan di dalam boks makanan, ternyata menjadi rebutan anak-anak. Aku mau yang masukkin ininya….aku yang bagian tutup boksnya…. aku yang masukin kerupuknya ya…. Hahaha heboh juga mereka. But they really like it. Malah kalo bisa, mereka mau langsung membagikannya di mesjid 🙂

Namanya juga anak-anak, apapun bisa dijadikan mainan buat mereka. Tinggal kita para orang tua mengarahkan mana yang bisa buat bermain, kapan waktunya bermain, dan usahakan permainan mereka sifatnya positif buat anak-anak. Ya kan, Moms?

Dipublikasi di Kiddo, Parenting | Meninggalkan komentar

Puasa Sejak Dini

Ramadhan Tiba….Ramadhan Tiba….Ramadhan Tiba…..

Ramadhan sudah dimulai di akhir bulan Juni. Seperti biasa di negara kita Indonesia tercinta, puasa terkadang tidak diadakan serempak. Muhammadiyah memutuskan 1 Ramadhan jatuh hari Sabtu tanggal 28. Sedangkan Pemerintah (dalam hal ini NU) menetapkan hari Minggu dengan perhitungan hilal dan rukiyah-nya. Tidak ada paksaan harus ikut yang mana, tergantung setiap orang untuk mengikut ulil amri yang mereka percayakan.

Saya mengikuti awal puasa versi pemerintah. Jadi baru mulai  hari Minggu. Tahun ini, awal puasa dimulai di rumah mertua. Memang kebetulan juga bertepatan dengan liburan anak sekolah. Ghaly sudah antusias saat memasuki bulan Ramadhan. Dia menyatakan mau ikut puasa penuh tahun ini. Tahun-tahun sebelumnya, si kakak juga sudah mulai puasa full day. Tapi hanya beberapa hari saja yang bisa poll (istilah bila bisa puasa penuh dari imsyak hingga maghrib). Saya memang tidak pernah mengharuskan anak puasa di usia tertentu. Lebih melihat kesiapan mereka untuk memulainya. Karena dengan itu, mereka akan lebih berkomitmen dan bertanggung jawab atas hal yang mereka lakukan. Ternyata antusiasme si kakak menular ke adiknya. Dari umur sebenarnya Nikha sudah mulai bisa untuk belajar puasa. Namun saat Ghaly seusia Nikha, 6 tahun, sama sekali belum ada minat untuk mengikuti puasa. Mungkin karena Ghaly belum memiliki real model yang bisa jadi panutannya,

Sahur pertama, saya hanya mengajak si kakak sahur. Ternyata paginya, Nikha ngambeg karena tidak dibangunkan sahur. Saya menanyakan kesungguhannya apakah sudah siap puasa. Gak disangka, dia lebih siap dari yang saya duga. Puasa hari pertama Nikha pun dimulai dari jam 12 siang hingga magrib tiba. Rupanya yang dia inginkan adalah momen istimewa saat berbuka puasa. Tradisi buka puasa di rumah hanya teh manis dan aneka gorengan buatan si mbak. Dan itulah menjadi suatu yang istimewa yang memicu si bungsu untuk memulai puasanya. Saya kagum dengan anak saya. Esoknya Nikha ikutan sahur dan mencoba untuk puasa full day. Tapi karena belum terbiasa, tengah haripun dia minta waktu untuk berbuka untuk makan dan minum (sekaliiiii ajaaaa yaa…gitu katanya) dan diterusin lagi hingga Maghrib. Tidak masalah dengan itu, yang penting ada perkembangan dari hari sebelumnya. Hebatnya di hari ketiga puasa, Nikha sudah bisa puasa poll. Saya cukup surprise juga mengetahui dia bisa melalui sehari puasa tanpa makan dan minum. Dan kata orang rumah, dia hanya mengeluh haus ketika jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Dengan berbagai cara untuk mengalihkan dahaganya, akhirnya Nikha mampu melewatinya hingga Magrib. Hebaaattt anak kuhh…:*

Belajar dari pengalaman 2 anak saya, saya bisa mengambil kesimpulan (sendiri) untuk mengajarkan anak-anak puasa sejak dini :

1. Kesiapan Anak-anak Tidak Bisa Disamakan

Anak akan siap dengan sendirinya, kita hanya menunggu waktu yang tepat dan memberikan support agar mereka mau melakukannya. Jangan menyamaratakan umur anak bahwa bila si A saat umur 7 tahun sudah bisa puasa satu bulan penuh dan si B masih belum bisa puasa 1 hari, it’s OK. Jangan berkecil hati. Intinya jangan paksakan anak untuk melakukan hal apabila ia belum siap melakukannya.

2.  Real Model Akan Lebih Membantu

Bila di lingkungan sekitar ada yang bisa dijadikan contoh, ini akan lebih mudah diterapkan ke generasi berikutnya. Biasanya kesiapan adik akan lebih cepat dibanding si kakak. Namun jangan pula mengecilkan hati si kakak. Berikan penjelasan bahwa setiap anak berbeda bila berhubungan dengan kesiapan.

3. Ciptakan Momen Unik Yang Mengingatkan Hal Tertentu

Momen buka puasa dengan teh manis hangat dan gorengan rumahan akan menjadi seru bila dinikmati bersama keluarga. Apalagi saya yang satu rumah dengan orang tua dan adik saya dengan keluarganya, semakin menambah kegembiraan keluarga ketika menyambut bedug maghrib tiba.

4. Berikan Penghargaaan

Saya selalu memberikan penghargaan kepada anak-anak bila mereka berhasil melakukan sesuatu. Bukan merupakan materi. Materi buat saya adalah hal kesekian. Pujian, pelukan dan ciuman selalu saya berikan ke anak-anak bila mereka berhasil. Dan menurut anak-anak saya, it’s worth it enough. *Hopefully*

Sungguh saya bangga kepada mereka. Mungkin karena saya merasa belum menjadi orang tua yang siap mengajarkan agama kepada anak saya. Saya sendiri mengakui bahwa saya (dan suami) terkadang masih belum sepenuhnya menjalani semua kewajiban-Nya. Namun saya selalu mencoba untuk memberikan pendidikan agama sejak dini. Dan Insha Allah anak-anak saya akan menjalankan dengan niat, ikhlas lillahi ta’ala hingga mereka dewasa kelak.

Dipublikasi di Parenting, Uncategorized | Tag , , | Meninggalkan komentar

Simple Thing Can Make Them Proud

Jumat lalu saat pembagian hasil belajar Ghaly di semester 2 kelas 4,  seperti biasa Ghaly tidak mau ikut ke sekolah menemani saya. Selain itu di rumah juga sedang ada adik dari Bandung dengan anaknya yang saya juluki Azka si Masha (karena memang dia suka film Masha & The Bear dan penampilan mereka yang agak mirip). Saya mengajak suami agar berangkat lebih pagi. Pengalaman beberapa tahun kalau sudah siangan dikit, antrian semakin panjang dan luamaaaanya menunggu orang tua yang berkonsultasi dengan wali kelas.

Setibanya di sekolah, saya langsung ke kelas Ghaly dan melihat antrian tidak terlalu banyak seperti biasanya. Saya dapat antrian 20 dan nomor yang dipanggil terakhir sudah 17. Ahhh….sedikit lega karena tidak harus menunggu lama. Eh, tapi jangan senang dulu. Ternyata ada beberapa orang tua yang sudah ambil nomor, lalu menghilang dengan alasan ke kelas adik/kakaknya atau entahlah urusan lainnya. Jadi kadang masih diselak dengan nomor antrian sebelumnya. Yaaa sudah lah, kalo sudah begini sabar aja sambil baca-baca timeline atau berita di gadget hehehe. .

Setelah menunggu sekitar setengah jam (kira-kira), nomor antrian saya pun dipanggil. Setelah beramah tamah dengan wali kelas Ghaly, Ibu Cici yang sangat ramah, lembut dan baik, mulailah ditunjukkan hasil belajar Ghaly semester 2 ini. Nah sebelum mulai dijelaskan, Bu Cici menanyakan anak saya apakah ikut ke sekolah atau tidak. Saya jelaskan bahwa Ghaly tidak ikut karena sedang bla bla bla. Dia pun mengatakan, “Wah sayang sekali…karena tadi pagi diumumkan pembagian award untuk anak-anak.” Saya pun agak surprise juga mendengarnya, “Ghaly dapat award apa, Bu?” tanya saya sudah gak sabar. “Award Good Behaviour, Mama Ghaly. Jadi Ghaly selama ini kan behaviour-nya sangat baik. Tidak ada konflik dengan teman-teman. Bicaranya juga lembut, guru-guru juga senang dengan sikap Ghaly, jadi Ghaly bisa dapat award itu…”

Gambar

Wahhhh bangganya saya mendengar penjelasan dari wali kelas Ghaly. Memang salah satu yang saya suka dari sekolah Ghaly, selalu memberikan penghargaan kepada siswa-siswinya bukan hanya berprestasi dari bidang akademik. Tapi siswa-siswi juga dihargai dalam segi kedisiplinan, sikap, ataupun kegiatan positif yang sesuai dengan anak-anak. Yaaaa award-nya sih bukan berupa barang yang berharga. Namun dengan mendapatkan salah satu award, si anak akan senang karena yang dilakukan selama ini dihargai oleh sekolah. Seperti tahun lalu, Ghaly mendapatkan “Book Lover Award”. Ternyata award ini diberikan karena Ghaly salah satu anggota perpustakaan yang aktif meminjam buku. Hehehe lucu ya. Simple thing can make them proud. Sejak itu, Ghaly semakin senang membaca. Dia sangat menggemari buku terutama buku KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) yang banyak dipinjamnya dari perpustakaan. Hanya belakangan ini, Ghaly mulai berkurang mengunjungi perpustakaan bukan karena tidak suka buku lagi, tapi kebetulan ada teman yang berbaik hati melimpahkan buku KKPK bekas anaknya yang juga sudah “dilahap habis”. Mungkin ada sekitar 50-an buku yang diberikan. Wuidihhh senangnya bukan main dong anakku….(Makasih ya mbak Ika dan Kakak Aida buat buku-bukunya :*)

Saya bersyukur melihat prestasi Ghaly. Mungkin Ghaly bukan termasuk “bintang kelas” yang nilainya Top 5, namun rata-ratanya masih diatas rata-rata kelas kok. Masih banyak yang dapat dibanggakan dari anak. Tidak melulu hanya berupa nilai, peringkat, rangking, juara, atau apapunlah namanya. Semakin kita menghargai apa saja kemampuan yang dimiliki anak kita, sekecil apapun, tentunya dia akan bangga. Dan pastinya kitapun juga akan bangga dengan mereka.

Dipublikasi di Kiddo, Parenting | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar